You are using an outdated browser. For a faster, safer browsing experience, upgrade for free today.

Banting Stir dari Guru Honorer, Sudarmono Kini Berpenghasilan Rp150 Juta Perbulan

Laporan Reporter Tribunjogja.com, Ahmad Syarifudin
 
TRIBUNJOGJA.COM - Jalan hidup manusia memang tak pernah ada yang bisa menebak.
 
Mengalir begitu saja mengikuti titipan sang takdir.
 
Begitu juga yang dialami Sudarmono (31).
 
Jebolan dari mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta ini tak pernah menyangka bisnis kuliner ayam goreng yang ia rintis satu setengah tahun silam, kini berkembang pesat hingga beromset ratusan juta rupiah setiap bulan.
 
Bahkan, saat ini dirinya bisa membuka lapangan pekerjaan bagi puluhan karyawan yang membutuhkan penghasilan.
 
Meski memiliki puluhan karyawan dan beromset ratusan juta, Sudarmono tak berbungah hati.
 
Ia bisa dikatakan lelaki yang tidak mengenal gengsi dan cenderung rendah hati.
 
Pasalnya, ketika Tribun Jogja menyambanginya, lelaki yang biasa disapa Mono itu tengah memegang lap dan membersihkan meja tanpa canggung di rumah makan miliknya bernama 'Griya Dahar Mbok Sum' di kawasan Mangunan, Dlingo, Bantul.
 
Beberapa kali, ia juga tampak menyapu lantai, membawa makanan dan minuman kepada pengunjung.
 
Bagi pengunjung yang belum mengenal, pasti tidak akan pernah menyangka, bahwa lelaki dengan celana pendek itu adalah pemilik dari rumah makan tersebut.
 
Dengan ramah dan penuh senyum, ia mempersilahkan para pengunjung untuk menikmati hidangan yang disediakan.
 
Ketika berbincang dengan Tribun Jogja, Sudarmono mengaku semua itu dilakukan karena ia sendiri tidak tega ketika harus menyuruh karyawannya sendiri.
 
"Saya sungkan mau nyuruh karyawan. Kalau saya bisa, saya pasti akan lakukan sendiri," kata Mono, sembari tersenyum ramah.
 
Ia kemudian bercerita, awal mula membangun bisnis kuliner ayam goreng bermula pada tahun 2016 silam.
 
"Dimulai tahun 2016 akhir, waktu itu habis lebaran, awalnya nekat saja. Saya masih ingat waktu itu jualan numpang di depan rumah, bersandingan dengan outlet Tiwul Mbok sum," kenang Mono.
 
Kenekatan muncul untuk berjualan ayam goreng waktu itu, lantaran melihat banyaknya wisatawan yang menghabiskan waktu libur lebaran berkunjung ke puncak Mangunan.
 
Hari pertama jualan, kata Mono, ia tak menyangka ayam gorengnya langsung diserbu wisatawan dan hari pertama jualan itu ia bisa menjual 240 porsi.
 
"Hari pertama jualan langsung rame, habis 60 potong ayam. Satu potong ayam itu dibagi 4, jadi hari pertama habis 240 porsi," jelasnya mengenang.
 
Namun, ternyata itu tak berlangsung lama.
 
Usai libur lebaran, pengunjung berangsur-angsur mulai sepi.
 
Setiap harinya ia mengaku hanya mampu menjual 10 porsi/hari selama satu bulan.
 
"Bulan pertama jualan, kadang ramai kadang sepi, kira-kira omsetnya cuma Rp 7 jutaan," ujar dia.
 
Ia sendiri mengaku tak memiliki keahlian bisnis sama sekali.
 
Semua pondasi usahanya hanya doa dan pasrah.
 
Bulan berikutnya, ia lalui bisnis ayam goreng itu dengan mengalir apa adanya.
 
Namun, justru karena mengalir apa adanya, semakin hari para pengunjung yang mampir di kedainya semakin ramai.
 
"Karena bulan berikutnya semakin ramai. Saya nekat membangun Gazebo, dan mulai menata yang awalnya hanya di pinggiran rumah, kini mulai menjadi rumah makan," terangnya.
 
Dengan susah payah, gazebo pertama akhirnya berdiri.
 
Lambat laun dan berjalannya waktu, para pengunjung ternyata semakin suka makan di Gazebo dan semakin ramai yang datang.
 
"Akhirnya saya semakin mantap mulai membangun gazebo-gazebo berikutnya dan mulai mengkonsep menjadi rumah makan yang saya beri nama 'Griya Dahar Mbok Sum',"ujar Mono.
 
Kini, di lahan yang awalnya kosong itu mulai dikembangkan menjadi rumah makan dengan cita rasa khas Ayam goreng.
 
"Alhamdulillah, kini sudah berdiri, menjadi rumah makan," ungkapnya penuh syukur.
 
Ketika disingung omset pendapatan, Mono tersenyum dan tampak tersipu malu.
 
Sembari tersenyum ia mengaku kini memiliki omset ratusan juta.
 
"Kini, dalam satu hari kira-kira habis 400 porsi. Satu bulan omsetnya bisa 150 juta. Bersihnya ya paling 70 juta perbulan," ujar mahasiswa UNY angkatan 2006.
 
Hal yang mengejutkan. Sebelum terjun ke dunia bisnis kuliner, Sudarmono sendiri mengaku awalnya hanya berprofesi sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar.
 
Menjadi insan pendidik ia jalani semenjak kuliah hingga lulus, selama kurang lebih 8 tahun.
 
"Awalnya saya cuma guru honorer mas. Digaji Rp 400 ribu setiap bulan," ungkapnya.
 
Namun, semua itu ia terima dengan ikhlas karena niat awalnya hanya ingin melakukan pengabdian.
 
"Digaji segitu saya terimakasih dan ikhlas, alhamdulillah, karena niat saya mengajar hanya mengabdi," ujarnya.
 
Setelah guru honorer dilakoni selama 8 tuhan, pada awal tahun 2017, mengingat semakin sibuknya pekerjaan yang harus dijalani membuat Sudarmono akhirnya memilih untuk melepaskan pekerjaannya sebagai guru.
 
"Per 1 Januari 2017 saya resign dari guru. Dan saat ini fokus mengembangkan bisnis dibidang kuliner ini," ujar dia. (tribunjogja)
 
 
 
Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Banting Stir dari Guru Honorer, Sudarmono Kini Berpenghasilan Rp150 Juta Perbulan, https://jogja.tribunnews.com/2018/03/19/banting-stir-dari-guru-honorer-sudarmono-kini-berpenghasilan-rp150-juta-perbulan?page=4.
Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: Hari Susmayanti
Kategori Artikel